Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Thursday, 29 September 2011

COWOK GENTLE TERNYATA MASIH ADA (meski tampaknya sudah mendekati kepunahan) 


gue baru menyadari hal ini setelah bertemu dgn teman baik gue secara langsung. waktu itu kita mau nonton suatu acara di depan sarinah, dan dia, R1 nunggu di deket mesjid di deket rumah gue. mobilnya dan sopirnya ada di sebrang jalan, lalu kita nyebrang. waktu itu anginnya gede banget dan langit udah gelap; bakal ujan. bener aja, gak lama setelah kt masuk mobil dan menuju ke tebet, sekalian jemput temen R1, kita sebut temen itu R2. hahaha


R2 nunggu di deket DD di tebet dan gak lama setelah dia masuk, turun hujan rintik-rintik yang syahdu...gak ding, ujannya gede juga dan gak syahdu sama sekali hahaha pokoknya kita akhirnya sampe di jalan di bawah semacam flyover di deket GI alias grand indo. sampe di situ udah mau setengah 7 dan acaranya mulai jam 7. masih hujan. 


di jalan itu semua mobil stuck, bener-bener berhenti gak gerak sama sekali. motor aja bisa jalan tapi pelan-pelan. supir R1 dengan pede bilang kalo nungguin sampe mobilnya jalan, kita bakal sampe di depan sarinah itu jam 8. setelah mikir...akhirnya kita punya dua pilihan. pilihan pertama adalah naik busway. pilihan kedua adalah jalan kaki. hal pertama yang gue lakukan setelah keluar dari mobil adalah menggulung celana jadi kayak korban banjir. 


seru juga lho, jalan bertigaan, dan cuma ada dua payung jadi otomatis gue sama R1 dan R2 payungan sendiri. kita udah kayak bocah petualang hahaha tinggal bawa ransel, peta, dan satu monyet biru keunguan maka TARRAHH gue udah kayak dora the explorer. nah, rencana awal naik busway itu kandas ketika kita melihat di halte busway...antriannya panjang boo. dan busnya sendiri gak gerak di jalannya. udah deh, percuma aja kalo naik busway. pilihan naik busway dicoret. 


pilihan yang tersisa adalah....jalan kaki! lalu dengan langkah tegap dan gagah berani ketiga petualang ini memulai perjalanan dari sizzler sampai sarinah hahaha. begitu sampai di gi, hujannya berhenti. tebak apa yang terjadi kemudian deh. payung R1 ga bisa ditutup. mati banget ga sih? dengan amat terpaksa R1 bawa-bawa payung yang tetep terbuka meski ga ujan. 


dengan rasa keki yang memuncak R1 dan R2 berusaha keras bikin payung itu tertutup. pas mereka lagi napsu mau nutup payung gede itu....KREK. kerangkanya patah. akhirnya R1 dan R2 matahin semua kerangka payung itu (sangking annoyingnya) dan ngebuang payung itu gitu aja di pinggir jalan. habis itu kita ngakak bareng, habis gelo sih, buang-buang payung hahaha 


sebenernya gue termasuk orang yang suka kebersihan (ya gitu deh :p) jadi rada gak setuju kalo payung itu dibuang gitu aja hahaha cuma apa boleh buat, gak mungkin bawa2 payung yang udah gak berbentuk itu ke gedung acara. 


nah, akhirnya setelah melewati lembah dan gunung, jurang dan ngarai (lebay banget ya) kita sampe di gedung tpt acara di depan sarinah itu, jam 7 mepet. hahaha sementara orang-orang lainnya dateng dengan kerennya pakai mobil, kita jalan kaki (dan gue bangga, entah kenapa :D) 


Satu hal yang gue peratiin selama perjalanan singkat ini adalah R1 DAN R2 sama-sama gentlemen. kenapa??
1. R1 mayungin gue sepanjang perjalanan, bahkan sampai menyesuaikan jalannya sama gue supaya gue ga kehujanan. manis banget ga sih? 
2. R1 tau gue gak bisa nyebrang, dan dia nyebrangin gue. hampir setiap kali nyebrang, R1 dan R2 ngapit gue, jadi gue selalu ada di tengah ketika nyebrang. 
kalo R1 ada di kiri gue, maka R2 akan ngambil posisi di kanan, dan begitu sebaliknya. gak kok, kita gak berdiri berdempetan gitu, tapi tetep aja kan, itu bentuk perhatian yang oke menurut gue. 


Perlu diketahui, R1 dan R2 berjenis kelamin laki-laki. sementara gue perempuan. dan rasanya, enak jalan sama mereka karena adanya rasa aman. mereka bisa bikin org ngerasa santai, nyaman deh. INI NAMANYA COWOK GENTLE. dari tindakan-tindakan sederhana, mereka bisa bikin gue berharap akan menemukan lebih banyak cowok gentle. yeahhh. wahai cowok-cowok, hargailah cewek dan jadilah gentleman! ;D




perhatian. ini hanya curahan pikiran gue aja. ingat itu!

Thursday, 19 May 2011

Kebetulan...atau bukan?

Nah, ini sudah ketiga kalinya aku mencoba menulis artikel ini. KETIGA KALINYA. Pertama dan kedua, aku menulis langsung di blog. Sialnya, apesnya, keduanya kehapus karena aku tidak sengaja memencet suatu tombol di laptop. Entah tombol sialan apa yang kupencet ini. Ugh, karena itu aku menulis di ms word, supaya gak sakit hati karena data yang sudah capek-capek kutulis raib begitu saja.

Begini ceritanya, waktu itu aku membeli dua buku dalam waktu yang berdekatan, umum, saat liburan sekolah selama seminggu karena kelas 12 sedang ujian nasional. Buku pertama yang kubeli adalah Clockwork Angel karangan Cassandra Clare. Yah, secara aku penggemar berat malaikat, makanya mudah tertarik akan sesuatu yang berbau malaikat. Contohnya buku ini. Dua hari kemudian aku membeli buku The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest karangan Stieg Larsson. Perlu ditambahkan, kedua buku itu tebal. Coba cari saja di toko buku. Persamaannya, kedua buku itu merupakan trilogi. Bedanya, serial Infernal Devices karya Clare baru buku pertama. Sedangkan The Girl Who Kicked The Hornets’ Nest adalah buku ketiga dari Blomkvist & Salander Trilogy karangan Larsson. Aku sudah membaca buku pertama dan keduanya, dan buku itu....jenius. Benar deh, meski awalnya aku merasa amat ngantuk saat membaca, kelamaan buku itu jadi amat menarik. Sampai di buku ketiga ini, rasanya jadi seperti ngisap ganja karena begitu nikmat dan bikin ketagihan. Bukan berarti aku pernah mengisap ganja sungguhan. Cuma metafora.

Di kedua buku yang sepertinya agak bertolak belakang ini (karena yang satu bercerita tentang makhluk separuh malaikat-separuh manusia, sementara yang satu bercerita secara nyata tentang kehidupan hacker dan jurnalis) aku menemukan bahwa kedua pengarang membahas tentang satu orang. Oke, seorang wanita. Seorang wanita pejuang yang sama. Mungkin karena tokoh utama dari kedua buku ini adalah perempuan yang digambarkan sama-sama berani? Pokoknya, pengarang mengacu pada seseorang Ratu yang sama. BOADICEA. Atau disebut Boudicca di The Girl. Karena itu aku merasa tertarik akan sosok ini sampai aku mencari keterangan tentangnya dari internet. Dan inilah hasil pencarianku.

Ratu Boudica, atau Boudicca, atau Boadicea, atau Boadicca, memiliki nama yang tidak jelas (terbukti dari begitu banyak perkiraan namanya) dan tanggal lahirnya juga tidak diketahui pasti namun dapat diperkirakan. Secara fisik, ia digambarkan sebagai seorang perempuan berambut merah yang panjangnya sepinggang, tinggi, suaranya yang keras seakan menuntut untuk didengarkan di pertempuran.

Saat penaklukan Romawi, Boudicca Ratu Inggris memerintah suku Iceni di Anglia Timur bersama suaminya, Raja Prasutagus (tanggal pernikahan dengan Prasutagus juga tidak diketahui). Banyak ketidakjelasan mengenai Ratu pejuang yang satu ini, orang tuanya tidak diketahui, darimana asalnya, kapan ia meninggal-bagaimana ia meninggal, atau dimana ia dikuburkan pun tidak diketahui. Selama ini dikabarkan ia bunuh diri karena menolak menyerahkan diri pada prajurit Romawi. Ia mempunya dua anak perempuan. Kesalahan Prasutagus adalah ia menyerahkan sebagian tanah kerajaannya kepada Pemerintah Romawi dengan harapan menjaga kerajaan bebas dari serangan. Tapi ternyata itu suatu kesalahan karena pemerintah Romawi tidak puas dengan pembagian ini dan menjarah seluruh tanah kerajaan itu dari bangsawan-bangsawan lainnya dan mereka masih belum puas.

Dikabarkan Boadicea dicambuk dihadapan banyak orang dan putrinya diperkosa budak Romawi. Kemarahan timbul dalam diri orang-orang Iceni melihat pemimpin mereka diperlakukan seperti budak dan mereka meutuskan untuk memberontak melawan Romawi. Disebutkan Boadicea berpidato dan mengumpulkan orang-orang untuk memberontak. Bukan hanya itu, ia memimpin banyak lelaki untuk berperang melawan Romawi.   Saat itu, tidak ada wanita yang ikut berperang bersama, apalagi memimpin peperangan. Hal itu dianggap amat tidak lazim. Benteng Romawi yang pertama jatuh adalah Camulodunum. Romawi tidak menduga serangan ini, apalagi karena sekitar 120.000 tentara berbaris dengan dipimpin seorang wanita.

Boadicea terus menyerang, kali ini ia menyerang Londinium. Londinium waktu itu bukanlah benteng militer tapi pusat perdagangan utama. Kota itu dihancurkan, dibakar, dan penduduknya yang tidak dapat melarikan diri, dibunuh. Boadicea melaju dengab kereta kudanya sebelum pertempuran, mendesak semua orang untuk menjadi berani. Ia menangis; ia berasal dari keturunan orang-orang perkasa tapi ia berjuang sebagai orang biasa untuk kebebasannya, memar di tubuhnya, dan anak perempuannya. Ia meminta mereka mempertimbangkan, menang atau binasa, itulah yang akan ia  lakukan, laki-laki dapat hidup dalam perbudakan jika itu yang mereka inginkan.

Mereka bertempur. Tapi pada akhirnya Romawi mengumpulkan kekuatan dan tentara Boadicea dikalahkan. Salah satu prajurit Romawi yang berpengalaman bernama Suetonius mengatakan bahwa Boadicea ‘hanya’ seorang wanita tapi karena didorong oleh kemarahan yang besar, keinginan membalas dendam dan membebaskan orang-orangnya, Boadicea bertahan. Tempat pertempuran terakhir ini tidak diketahui, sebagaimana nasib Boadicea sendiri. Diperkirakan 80.000 prajurit Inggris meninggal sedangkan hanya sekitar 400 orang Romawi yang meninggal dan banyak yang terluka. Boadicea dikabarkan selamat, tapi memilih menenggak racun daripada ditangkap bangsa Romawi. Ada yang mengatakan ia jatuh sakit (sakit karena racun itu?) dan apakah anak-anaknya juga meninggal dalam pertempuran itu. Tidak pernah diketahui.






Orang Inggris terkenang akan keberanian Ratu ini dan semangatnya untuk bebas dari penjajahan (ia memimpin salah satu revolusi Inggris yang paling berdarah) dan diabadikan dalam bentuk patung yang berdiri di tepi sungai Thames, dekat Westmister Bridge, persis bersebrangan dengan Big Ben. Sejauh ini Bodicaea digambarkan sebagai salah satu perempuan yang lebih berani dari lelaki saat itu.

Yah, aku mengerti sekarang kenapa kedua penulis itu menggambarkan tentang Boadica; karena ia seorang perempuan pejuang dan dengan keberaniannya ia berhasil membangkitkan semangat banyak orang untuk bertindak dan melawan penjajahan. Meski sekarang  kecil kemungkinan perempuan untuk mengangkat pedang dan maju ke medan perang (dengan segala kemajuan teknologi, untuk apa menggunakan pedang?) tapi masing-masing orang punya arena perang tersendiri. “There will always be battlefield,” kata Lancelot pada Arthur. Dan itu memang benar. Selamat berjuang. 

Thursday, 17 March 2011

TENTANG PELECEHAN SEKSUAL

Jika Anda ditanya, pernahkan mengalami pelecehan seksual? Anda mungkin menjawab ya. Anda mungkin menjawab tidak. Tapi bagi yang menjawab tidak, bukan berarti Anda benar-benar tidak pernah mengalami pelecehan seksual. Lantas kenapa harus menjawab tidak padahal pernah mengalami? Karena Anda perempuan. Kenapa perempuan tidak bisa mengatakan kebenaran? Karena perempuan tidak dibiarkan tahu kebenaran.

Sudah sering kita dengar celetukan-celetukan para orang tua tentang bedanya punya anak laki-laki atau perempuan. Jika punya anak laki-laki, perhatian mereka lebih terpaku kepada bagaimana ia kelak bisa mencari nafkah dengan benar. Jika punya anak perempuan, perhatian mereka lebih terpaku kepada bagaimana ia kelak bisa mendapat laki-laki yang menafkahi dengan benar. Untuk itu laki-laki dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan supaya lebih mudah mendapat pekerjaan. Sementara perempuan dibekali pengetahuan dan keterampilan supaya lebih mudah mendapat laki-laki. 

Syarat-syarat menjadi perempuan yang mudah mendapat laki-laki sudah merakyat secara turun temurun. Bahwasanya perempuan harus perawan, harus pandai mengatur keuangan, harus sabar, harus bisa memasak, harus bisa memberi keturunan, harus pandai memuaskan suami di ranjang. Sementara syarat-syarat menjadi laki-laki hanya satu, pandai-pandailah mencari uang. 

Bagaimana jika seorang perempuan mengalami pelecehan seksual, terutama yang sampai merusak keperawanan, sementara sejak kecil kepala sudah dibombardir dengan informasi bahwa perempuan mutlak perawan dan jika tidak, berarti ia tidak akan laku? Mereka tidak berani mengaku. Selain mendapat ancaman dari pelaku, mereka sudah terancam oleh informasi atau syarat perempuan ideal yang berlaku. Bagi mereka yang mengaku, tak jarang yang didapat bukan dukungan melainkan penghinaan. Baik dari masyarakat luas, maupun dari pihak keluarga terdekat. Masih banyak orang tua yang merasa, perkosaan adalah aib bagi si korban, bukan aib bagi si pelaku. Aib harus ditutupi. Kejahatan mereka tutupi. Dan kenyataan ini membuat korban merasa terhina dan lebih terpuruk lagi.  

Tindak pelecehan seksual pun rentan terjadi pada anak-anak perempuan di bawah umur. Seks yang menjadi momok dalam kepala masyarakat membuat anak-anak tidak diberi pendidikan seksual semenjak dini. Seks ditabukan. Ditutupi. Upaya-upaya seperti ini dilakukan supaya anak-anak perempuan tidak menjangkau pengetahuan seks. Harapan orang tua, niscaya anak-anak perempuan mereka tetap suci hingga saatnya dipersunting mempelai laki-laki. Akibatnya, pelecehan seksual anak-anak dibawah umur banyak dilakukan justru oleh lingkungan terdekatnya sendiri. Anak-anak perempuan di bawah umur yang tidak diberi pembelajaran tentang seks dan tidak pernah mengetahui fungsi alat kelamin, dengan mudah ditipu oleh pelaku pelecehan seksual dengan mengatakan penisnya adalah permen loli. Vagina adalah neraka dan penis adalah setan. Jika penis dimasukkan ke dalam vagina, berarti setan tengah dimasukkan ke dalam neraka. Dan sebagainya, dan sebagainya, yang sayangnya, kebanyakan baru diketahui setelah semuanya terlambat. Semua baru terbongkar ketika anak-anak tertentu mengeluh sakit saat buang air kecil, atau panas tinggi akibat vaginanya infeksi.

Jika saja, ada keluarga yang mau berbesar hati menerima kealpaan mereka, lantas segera menempuh tindakan-tindakan semestinya, mulai dari tindakan hukum maupun terapi psikologis terhadap korban, apakah semua itu bisa mengembalikan hidup korban seperti semula? Dan bagaimana pula dengan nasib korban yang tidak mendapat dukungan dari keluarganya?

Tak banyak korban pelecehan seksual bersedia membuka pengalaman traumatisnya. Mereka takut menerima penolakan. Namun di sisi lain, mereka sebenarnya ingin sekali didengar. Tapi



Tulisan diatas diambil dari novel Nayla karangan Djenar Maesa Ayu, penerbit Gramedia Pustaka Utama.